Jumat, 18 Januari 2013

Output Skripsi Kecil - Semacam Tulisan Pertama sebagai Calon Sejarawan - Metode dan Praktik Penelitian Sejarah I


BAB II
PEMBAHASAN

2. 1. Kemunculan Malaria di Batavia
Semenjak dibangun oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen, Batavia berkembang menjadi kota yang megah dengan pesona dan keindahan yang terkenal hingga di berbagai belahan dunia. Pusat pemerintahan VOC ini dirancang sebagaimana kota-kota di Negeri Kincir Angin. Banyak sekali bangunan-bangunan bergaya Eropa didirikan di Batavia. Orang-orang Eropa yang tinggal di sana, benar-benar bermigrasi dan menetap di kota dalam benteng tersebut. Kehidupan masyarakat Eropa di daerah tropis pun muncul di Batavia.
Dari awal abad XVII, pembangunan Batavia memang dilakukan tanpa rencana yang baik. Ketika itu VOC membutuhkan tempat untuk pusat administrasinya. Maka dari itu, dibangunlah kota dalam sebuah benteng besar yang terletak di tepi Sungai Ciliwung, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Groote Rivier dalam bahasa Belanda. Kemudian Batavia diperluas hingga Sungai Ciliwung berada di tengah dan membelah kota menjadi dua bagian, barat dan timur. Selanjutnya Batavia berkembang lagi menjadi kota dengan reputasi yang sangat baik. Sungai Ciliwung sebagai sungai yang terpenting bagi Batavia kala itu beraliran deras. Alirannya diteruskan ke kanal-kanal di dalam kota serta berfungsi sebagai jalur transportasi yang membawa kapal-kapal dari dan ke laut. Hingga akhir abad XVII, Batavia menjadi kota terbaik di dunia dengan nuansa Eropa di daerah tropis.
Terlepas dari pesona dan kemegahan Batavia, banyak sekali permasalahan lingkungan terjadi. Masalah lingkungan bermula dari rusaknya drainase pada kanal-kanal yang dibangun semenjak abad XVII.
“Batavia yang dikelilingi kanal dan benteng itu kemudian menjadi sangat tidak sehat. Jumlah penduduk di dalam Kota Batavia membengkak dan menimbulkan ancaman terhadap kebersihan kota. Kanal-kanal tercemar gelontoran tinja dari rumah-rumah. Kanal juga menjadi saluran pembuangan limbah dari puluhan tempat usaha pembuatan gula di dalam Kota Batavia. Beban polusi air bertambah saat Sungai Ciliwung membawa material vulkanik hasil letusan Gunung Salak pada 1669. Hal ini menyebabkan kanal-kanal tersumbat lumpur dan sampah”.[1]

Uraian tersebut menggambarkan kondisi lingkungan Batavia yang buruk. Kota dengan ciri khas Belanda di daerah tropis itu terpuruk karena kotor dan kumuh. Batavia yang megah sebagai tempat nostalgia orang-orang Belanda berubah menjadi kota penuh polusi dan tidak sehat. Pola hidup penduduk dan perubahan yang terjadi pada lingkungan seakan menghancurkan reputasi Batavia dengan julukannya “Ratu dari Timur”.
Kanal-kanal, yang dibangun oleh VOC sebagai sistem drainase pencegah banjir, mulanya bermanfaat sebagai jalur transportasi yang mengangkut barang dari Ommenlanden menuju pelabuhan. Selain itu, orang-orang kaya di Batavia juga memanfaatkan kanal sebagai jalur menyusuri kota. Namun fungsi kanal berganti menjadi tempat penampungan segala jenis sisa yang dihasilkan manusia, karena pada awal abad XVIII memang rumah-rumah penduduk di Batavia pada umumnya tidak memiliki kakus. Jadi pembuangan langsung ditujukan ke kanal-kanal yang terletak di depan halaman rumah penduduk. Tidak hanya kotoran manusia saja, bangkai binatang terkadang dibiarkan membusuk setelah dibuang di kanal. Selain itu, limbah-limbah hasil penggilingan tebu, pembakaran genteng dan tembikar, serta penyulingan arak juga menambah pencemaran pada kanal-kanal.[2]
Sistem kanal yang dibangun pada kenyataannya tidak membawa perbaikan bagi drainase di kota Batavia. Banjir seringkali terjadi ketika musim penghujan tiba, karena aliran air pada kanal tersumbat akibat air pasang bercampur pasir dan banyaknya lumpur yang terbawa ke hilir. Kanal dengan aliran yang terhambat mengakibatkan adanya genangan air yang juga berpotensi meluap apabila terjadi banjir. Air hujan yang bercampur dengan kotoran dalam kanal yang menggenang kemudian membanjiri halaman rumah penduduk yang bertempat tinggal di tepi kanal. Namun, ketika musim kemarau, kanal mengalami sedimentasi dan memunculkan endapan-endapan lumpur yang berbau tidak sedap.
Populasi kota yang kian padat juga berkontribusi terhadap penyumbatan kanal[3]. Apalagi kebiasaan buruk penduduk dalam hal sanitasi, tentunya membawa dampak pencemaran yang akhirnya  merugikan mereka sendiri. Kesadaran penduduk akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan tidak begitu baik. Mereka lebih memilih membuang sampah dan limbah di kanal. Parahnya lagi, mereka tidak pernah memiliki kesadaran untuk membersihkan kanal dari berbagai kotoran yang ada di dalamnya. Padahal, sebelumnya pemerintah telah memperingatkan penduduk agar tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga kebersihan lingkungan.
Bukan hanya masalah genangan air yang tercemar di sepanjang kanal, pantai, tambak ikan, rawa dan pantai pun menjadi sumber permasalahan lingkungan. Pada masa kekuasaan VOC, terdapat pantai dengan hutan bakau lebat berbau menyengat yang berjarak sejauh satu kilometer lebih antara kota dan laut. Pantai juga mengalami sedimentasi secara cepat. Menurut Swaving, pendangkalan pantai memiliki kontribusi yang besar terhadap ketidak sehatan Batavia. Penduduk di sepanjang pesisir pada awalnya telah mencurigai bahwa sumber penyakit berasal dari pengendapan yang terjadi di pantai[4].
Rawa-rawa yang ada di Batavia, yang terletak dekat dengan pantai pada mulanya merupakan sawah-sawah peninggalan Pangeran Jayakarta yang tak terurus.[5] Baik tambak ikan maupun rawa kemudian juga mengalami sedimentasi dan menyisakan endapan lumpur, seperti halnya kanal-kanal yang ada di dalam kota. Sedimentasi di tempat-tempat tersebut yang mengakibatkan udara di Batavia berbau busuk layaknya “uap setan”.
Keadaan sanitasi yang tidak dikelola dengan baik di Batavia pada perempat kedua abad XVIII juga menimbulkan krisis air bersih. Krisis yang terjadi pada masa ini bukanlah krisis yang pertama kalinya. Sejak 1720-an krisis air bersih sudah muncul di Batavia. Hal ini berawal dari keadaan lingkungan yang tidak seimbang. Hutan-hutan digunduli dan kayunya dipakai sebagai bahan bakar pabrik gula. Lama-kelamaan timbul erosi dan sistem pengairan pun rusak karena limbah pabrik-pabrik gula mencemari air sungai yang mengalir ke Batavia.[6] Selain itu, pendangkalan dan penyusutan debit air Sungai Ciliwung juga terjadi akibat banyaknya kanal yang digali. Penggalian kanal-kanal sebagai bagian dari pembangunan Batavia yang tidak terencana dengan baik mengakibatkan air Sungai Ciliwung tidak mampu membawa air dan bahannya hingga ke laut. Penyusutan debit air selanjutnya menyebabkan sungai menjadi kotor dan semakin dangkal[7]
Krisis air bersih akhirnya berlanjut hingga tahun 1730-an. Banyak sekali saluran air tercemar dan air yang memenuhi standar kesehatan sulit ditemukan di dalam kota kala itu. Salah satu cara yang dilakukan penduduk untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memanfaatkan air kali yang didapat di selatan kota. Para pengambil air mengumpulkan air bersih dan menampungnya di ember-ember yang dibawa dengan perahu, kemudian dijual kepada penduduk.[8]
Adanya kerusakan lingkungan dan krisis air bersih di Batavia ini mendorong pemerintah untuk melakukan beberapa upaya demi memperbaiki lingkungan di Batavia yang berada dalam kondisi memprihatinkan saat itu. Peringatan kepada penduduk untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah pada tempatnya tidak diindahkan. Beberapa kanal diurug karena menambah pencemaran pada sistem drainase di Batavia, akan tetapi hasilnya sia-sia. Kemudian muncul tindakan baru dari pemerintah untuk menghadapi krisis air bersih, yaitu dengan kembali melakukan penggalian Mookervaart. Mookervaart adalah sebuah saluran air yang terletak di antara Kali Cisadane dan Kali Angke. Saluran ini pernah digali sebelumnya pada 1678 dan 1689[9]. Diederick Durven yang menjabat sebagai gubernur jenderal memerintahkan penggalian Mookervaart untuk mendapatkan lebih banyak air bersih pada 1732, tetapi usahanya sia-sia.[10]
Buruknya lingkungan identik dengan kemunculan penyakit, tak terkecuali Batavia. Sekalipun reputasinya diagungkan karena pesona dan kemegahannya, Batavia yang mengalami kerusakan lingkungan juga akhirnya menjadi sarang penyakit. Banyak penyakit yang muncul akibat keadaan lingkungan Batavia yang memprihatinkan. Berbagai macam penyakit berasal dari pencemaran sungai dan kanal yang menimbulkan adanya krisis air bersih. Dari krisis air bersih penduduk Batavia semakin kesulitan mendapatkan air yang sesuai standar kesehatan untuk kebutuhan sehari-hari mereka, seperti mandi, mencuci, dan minum. Bukan hanya itu, bau busuk yang ditimbulkan oleh kotornya sungai dan kanal juga menjadikan pencemaran udara yang mengganggu pernafasan mereka.
Tahun 1733 menjadi puncak dari ketidak sehatan di Batavia. Banyak penyakit yang muncul dan angka mortalitas meningkat tajam. Penyakit-penyakit yang muncul akibat buruknya kondisi lingkungan Batavia antara lain tifus, disentri, kolera, dan malaria. Sekalipun malaria bukanlah satu-satunya yang mengancam kesehatan penduduk di Batavia, penyakit ini merupakan penyakit yang paling parah dan paling mematikan. Van der Brug menyatakan bahwa tidak ada bantahan mengenai malaria sebagai faktor utama terkait ketidak sehatan Batavia setelah 1733. Ia menyebutkan tidak ada keraguan dalam analisisnya, bahwa karakteristik ketidak sehatan dan  peningkatan drastis angka kematian disebabkan oleh kemunculan malaria.
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh sporozoa dari genus Plasmodium melalui perantaraan nyamuk Anopheles. Pada umumnya Plasmodium tersebar di seluruh daerah tropis maupun sub tropis di dunia, termasuk di Batavia, yang merupakan bagian dari Hindia Timur. Penyakit ini ditandai dengan demam periodik, anemia, pembesaran limpa, dan berbagai sindrom akibat gangguan hati, otak, dan ginjal. Penderita akan mengalami demam disertai sakit kepala, mual dan muntah, bahkan diare. Selain itu, badan mereka akan terasa lelah dan nyeri otot. Malaria pada tingkat yang parah akan mengakibatkan terganggunya sistem organ penderita sehingga kesadaran mereka terganggu, mengalami koma, dan akhirnya meninggal.[11] Malaria bisa menyerang semua orang yang tidak memiliki kekebalan terhadapnya. Penyakit ini bisa membahayakan keselamatan penderitanya apabila telah mencapai tahap akut.
Di daerah tropis – termasuk di dalamnya Batavia – terdapat dua jenis parasit penyebab malaria. Yang pertama adalah Plasmodium vivax yang mengakibatkan penyakit malaria tertiana. Demamnya tidak berbahaya. Pada mulanya nyamuk Anopheles mengigit penderita, kemudian parasit dipindahkan ke tubuh penderita dan berkembang biak di hati korban. Selanjutnya, muncullah demam tertian yang bersifat periodik yang sekitar sepuluh hari dan muncul kembali tiap dua hari.  Yang kedua adalah Plasmodium falciparum yang membahayakan penderita. Demamnya mematikan. Parasit tersebut menyebabkan penyakit malaria tropica yang hanya ditemui di daerah tropis.[12] Jika tidak diatasi dengan pil kina, malaria ini akan menyebabkan penderita meninggal. Parasit nyamuk akan tetap hidup dalam darah dan hati penderita, berkembang biak dalam eritrosit hingga menimbulkan anemia akut, memperlemah vitalitas, dan meningkatkan kerentanan terhadap serangan penyakit yang lain.[13]
Tahun 1733 merupakan puncak dari perkembangan penyakit malaria di Batavia. Nyamuk Anopheles, terutama betina bertelur di berbagai tempat-tempat dengan endapan berbau busuk seperti pantai, rawa, kolam dan kanal-kanal. Nyamuk Anopheles, penular malaria, pada dasarnya tidak terbang jauh-jauh dari tempatnya bertelur. Nyamuk tersebut hanya mengigit ketika hari sudah petang, sehingga infeksi malaria hanya terjadi pada malam hari atau larut malam.[14] Jadi, tidak ada kekhawatiran bagi penduduk Batavia ketika siang hari mereka berada di luar rumah. Ketika hari sudah gelap, penduduk masuk ke dalam rumah dan menutup semua jendela rumah mereka rapat-rapat.

2. 2. Batavia Terserang Malaria
            Batavia merupakan kota yang penduduknya terdiri atas berbagai etnis. Secara umum, penduduk Batavia terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok orang-orang Eropa, yakni  orang-orang Jerman, Swedia, Perancis, Denmark, Inggris, Portugis, dan sebagainya. Kelompok kedua dikenal dengan nama Vreemde Oosterlingen atau Timur Asing, merupakan orang-orang Cina, Arab, Armenia, India, Persia, dan lain sebagainya. Yang terakhir ialah kelompok penduduk asli yang terdiri atas orang-orng Jawa, Bali, Ambon, Bugis, Melayu, dan lain-lain. Terdapat klasifikasi penduduk lagi dalam tiap-tiap kelompok penduduk yang telah dijelaskan di atas. Dalam kelompok-kelompok tersebut terdapat beberapa klasifikasi, misalnya orang Hindia kelahiran Eropa, orang Hindia kelahiran Cina dan Arab, serta orang-orang asli Hinda yang termasuk dalam kategori orang bebas atau budak. [15]
Dalam suatu wilayah sudah pasti terjadi dinamika penduduk, begitu pula dengan Batavia. Terlebih lagi, saat malaria menjadi wabah yang menyerang Batavia, angka kematian menunjukkan peningkatan tajam. Tidak ada keraguan lagi bahwa malaria menjadi pembunuh utama di Batavia. Lingkungan buruk memicu perkembang biakan nyamuk Anopheles, kemudian menyebarkan penyakit mematikan tersebut.
Penduduk Batavia pada 1730-an berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Penduduk Batavia yang berasal dari bermacam-macam etnis itu harus menanggung penderitaan akibat pola hidup mereka yang tidak sehat dan faktor lingkungan itu. Mereka harus berada dalam sebuah tempat mewabahnya penyakit yang bisa menyerang semua penduduk dari berbagai kalangan dan usia.
 Sebelum 1733, hanya sekitar 500 pegawai VOC yang meninggal di Batavia karena sakit. Setelah 1733, terjadi peningkatan angka kematian menjadi 2000 hingga 3000 jiwa. Pegawai-pegawai VOC merupakan kelompok penduduk Batavia dengan jumlah terbanyak terjangkit malaria. Setiap tahun, antara 5000 sampai 6000 pegawai yang berasal dari Eropa kemudian menjadi korban malaria setelah tiba di Batavia.[16] Para pendatang memang termasuk salah satu dari tiga golongan yang mudah terjangkit malaria – yang terdiri dari wanita hamil, pengungsi, dan pelaku perjalanan - setelah menempuh perjalanan jauh dan tidak memiliki kekebalan terhadap malaria.[17]
Angka kematian sekitar tahun 1733 mengalami peningkatan tajam, yakni dari 6% menjadi 50%. Angka kenaikan ini dihitung berdasarkan jumlah pendatang baru di Batavia semenjak setengah tahun kedatangan mereka. Kenaikan angka kematian tersebut tidak jauh berbeda dengan kenaikan angka kematian di kalangan pegawai VOC.[18] Sejumlah besar pegawai VOC terserang malaria, sehingga mereka tidak bisa bertugas sebagaimana biasanya. Banyaknya kekosongan jabatan menimbulkan sedikit kekacauan dalam pemerintahan VOC.
Kekalutan terjadi di Batavia. Pesona kemegahan Batavia berubah menjadi situasi tidak sehat. Sebagian penduduk menderita akibat wabah malaria. Keadaan fisik mereka berubah. Dalam laporannya tahun 1735, Pavacini menyatakan bahwa pegawai VOC yang terjangkit malaria terlihat seperti hantu. Kondisi badan mereka lemah. Serdadu, pelaut, dan tukang-tukang juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Kebanyakan dari pegawai VOC yang meninggal adalah mereka yang menghirup udara Batavia kurang dari sepuluh tahun. Ketahanan tubuh mereka terhadap penyakit malaria berbeda dengan para pegawai yang telah menetap lebih dari sepuluh tahun. Mereka yang masih sepuluh tahun berada di Batavia masih belum dapat dinamis dan terbiasa dengan lingkungan Batavia yang buruk.[19] Pegawai lama yang lebih dari 10 tahun berada di Batavia telah memperoleh imunisasi yang menjadikan mereka kebal terhadap malaria.
Selama periode 1733-1738, angka kematian di kalangan penduduk Kristen dewasa mencapai 120 ribu per seribu setelah malaria menjadi wabah di Batavia. Angka itu mengalami fluktuatif, dimulai dari kenaikan sebesar 60 per seribu tiap tahun. Kematian di kalangan anak-anak juga menunjukkan angka yang tinggi dibandingkan dengan orang dewasa yang memiliki kekebalan setelah menjalani beberapa proses imunisasi.[20]
Harrison menyatakan bahwa tidak seperti pegawai VOC dan orang-orang Eropa yang mudah terjangkit malaria, penduduk asli Batavia yang berasal dari Hindia Timur justru lebih kebal terhadap malaria. Kebiasaan mereka hidup dalam lingkungan yang tidak sehat tersebut meningkatkan kekebalan mereka terhadap penyakit, terutama malaria. Selain itu, orang-orang bukan penduduk asli yang jauh lebih lama tinggal di Batavia seperti halnya wanita Eropa, warga bebas, orang Eurasia, Mardijker, dan Mestizo telah beradaptasi terhadap lingkungan Batavia. Sekalipun malaria menyebar di lingkungan tempat tinggal mereka, akan tetapi penyakit itu tidak mengganggu kelangsungan hidup mereka. Mereka termasuk orang-orang yang kebal terhadap malaria. [21]
Orang-orang Cina yang juga terjangkit malaria lebih sedikit jumlahnya bila dibandingkan dengan orang-orang Eropa, khususnya pegawai VOC. Hal ini dikarenakan orang-orang Cina memiliki kebiasaan hidup yang baik, yaitu minum air dan teh.[22] Teh sangat bermanfaat bagi kesehatan. Selain menjadi tradisi yang sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka, teh juga menyebabkan orang-orang Cina itu memiliki resiko yang kecil untuk terjangkit malaria. Kandungan flavonoid di dalam teh – disebut dengan katekin – bersifat antioksidatif yang berfungsi menangkal radikal bebas[23], terutama dari lingkungan yang tercemar seperti Batavia.
Penyebaran malaria semakin meresahkan penduduk Batavia. Pejabat-pejabat tinggi VOC pun tidak bisa terhindar dari wabah penyakit itu. Berdasarkan catatan VOC, tercatat 14 orang anggota Dewan Hindia yang menjadi korban malaria. Gubernur jenderal pun ikut terjangkit penyakit tersebut. Dirk van Cloon yang menjabat sebagai gubernur jenderal kala itu juga terserang penyakit malaria. Ia menjabat sebagai gubernur jenderal pada periode 1732-1735, setelah Diederick Durven turun dari jabatan tersebut. Selain Dirk van Cloon, menjadi korban terjangkit malaria juga dialami oleh Abraham Patras yang menjabat sebagai gubernur jenderal tahun 1735-1737.[24]
Leonard Blusse memaparkan jumlah kenaikan angka kematian di Rumah Sakit Batavia.[25] Tahun 1729, angka kematian menunjuk pada angka 14,2%. Ini merupakan angka kematian saat lingkungan Batavia masih dapat dinyatakan baik. Selanjutnya angka itu naik menjadi 25,5% pada 1733, tahun dimana malaria sedang berada pada puncak perkembangannya. Kenaikan kemudian terjadi lagi hingga mencapai angka 36,4% pada 1737.
Kematian di Batavia yang menunjukkan angka tinggi berlanjut, meskipun wabah malaria di Batavia kian mereda. Wabah tersebut tidak hilang seketika. Penduduk Batavia masih terus diresahkan oleh wabah malaria hingga menjelang kejatuhan VOC. Sampai pada tahun 1795 telah tercatat sebanyak 85.000 pegawai VOC yang meninggal akibat malaria. Malaria menjadi ancaman bagi kesehatan penduduk Batavia dan eksistensi VOC. Banyak sekali pegawai yang meninggal menyebabkan terjadinya kekosongan jabatan dalam struktur pemerintahan VOC.
            Malaria menjadi wabah hebat yang bisa mengganti suasana Batavia yang tadinya sangat menarik perhatian untuk dikunjungi menjadi kota dengan wabah yang bahkan bisa menghilangkan nyawa penduduknya. Sang “Ratu dari Timur” berubah menjadi “Kota Hantu” karena penduduknya yang terjangkit malaria mengalami deman dan terlihat seperti hantu. Sekitar tahun 1733-1738, Batavia adalah kota tidak sehat yang digambarkan sebagai kuburan orang-orang Belanda.
Kekacauan yang beasal dari segi kebersihan lingkungan dan kesehatan menyebabkan makin buruknya reputasi Batavia.

2. 3. Upaya Penanggulangan Malaria
Malaria benar-benar menjadi faktor utama meningkatnya mortalitas di Batavia. banyak sekali pegawai VOC yang meninggal akibat terserang penyakit tersebut. Hal ini menimbulkan banyaknya terjadi kekosongan dalam administrasi VOC, sehingga mulai terjadi kemunduran dalam VOC dan kehancuran Batavia.
Banyaknya warga yang mati mendadak, memunculkan aksi penanggulangan malaria di Batavia. Tahun 1734, diumumkan satu hari untuk memanjatkan doa dan berpuasa agar Batavia benar-benar bersih dari wabah malaria. Usaha yang dilakukan penduduk Batavia ini sia-sia, sebab malaria tetap menjadi wabah yang mematikan di lingkungan tempat tinggal mereka. Tuhan tidak mengabulkan permohonan penduduk Batavia, yang sering dianggap gembel tidak bermoral dan bejat itu.[26]
Obat yang dapat menyembuhkan malaria adalah kina. Kina diperkenalkan di Hindia Timur sebagai penyembuh malaria. Kulit kayunya yang digunakan sebagai obat sangatlah terbatas karena harus didatangkan dari Amerika ke Belanda, kemudian barulah dikirim dari Belanda ke Hindia Timur. Sebelumnya, kina pernah didatangkan juga ke Batavia tahun 1638 untuk mengobati Comterse del Chincon.[27] Kina saat itu hanya bisa mengobati penderita malaria dari kalangan atas saja, mengingat perolehannya yang sulit. Secara umum malaria di kalangan penduduk Batavia tidak berhasil diobati dengan pil kina karena pemakaiannya hanya menjagkau skala amat bersahaja.[28]
Pemerintah Tinggi Batavia melakukan berbagai upaya dengan harga sangat mahal. Kesehatan kota berusaha dipulihkan kembali. Yang dilakukan pemerintah dalam upayanya mengembalikan kesehatan Batavia antara lain memperbaiki rumah-rumah yang seringkali dilanda banjir akibat meluapnya kanal, membangun pintu-pintu air untuk mendapatkan air bersih kembali, dan mengaliri saluran-saluran airnya. Selain itu, pemerintah juga memindahkan tempat-tempat yang bisa memicu timbulnya limbah. Tempat-tempat seperti penyulingan arak dan pengapuran dipindahkan ke luar kota. Gereja dan pemakaman pun dipindahkan pula ke luar dari benteng yang tidak sehat itu. Namun, semua usaha yang dilakukan pemerintah ini sia-sia. Tetap saja malaria menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup penduduk dan eksistensi Batavia.

2.4. Wabah Malaria Berpengaruh Terhadap Berbagai Aspek Kehidupan di Batavia
Reputasi Batavia memburuk seiring dengan buruknya keadaan lingkungannya. Wabah penyakit, malaria khususnya, merupakan salah satu faktor penyebab kemunduran Batavia dan VOC. Penyakit yang menyebar di berbagai kalangan penduduk Batavia itu menyebabkan melonjaknya angka kematian di Batavia. Mayoritas penduduk penderita malaria adalah pegawai VOC yang merupakan orang-orang yang tidak terbiasa dengan daerah tropis.
Dari periode menyebarnya malaria, sekitar 1733-1738, VOC sudah mengalami banyak kerugian. Pegawainya berkurang, VOC harus menyiapkan banyak tenaga baru untuk menggantikan mereka yang terjangkit malaria. Keuntugan VOC yang rata-rata sebanyak 1 juta gulden harus dipakai untuk menutup kerugian yang banyaknya 1,5 kali lebih banyak. Kerepotan di kalangan VOC bertambah karena VOC harus membayar biaya rumah sakit dan pelayanan kesehatan.[29] Kerugian-kerugian yang dialami VOC itu nantinya muncul sebagai faktor pemicu kemunduran VOC pada akhir abad XVIII dilihat dari sudut pandang kesehatan.
Setelah meninggalnya Gubernur Jenderal Abraham Patras, Adriaan Valckenier naik jabatan untuk mengantikannya. Kondisi Batavia sepeninggal Abraham Patras belum stabil. Malaria masih menghantui Batavia. Ditambah lagi, pembantaian terhadap orang-orang Cina pada 1740 memperburuk situasi Batavia. Valckenier tidak bisa mengambil tindakan secara bijaksana terhadap adanya pembantaian tersebut. Hubungannya dengan Heeren Zeventien juga tidak begitu baik. Selain itu, dia juga berseteru dengan anggota Dewan Hindia yang merangkap sebagai gubernur di Srilangka. Pemerintahan Valckenier yang tidak memuaskan bagi berbagai pihak ini membuatnya dipecat dan kemudian digantikan dengan Baron Gustaaf Willem Van Imhoff.[30]
Pada masa awal pemerintahannya, Van Imhoff memberlakukan suatu kebijakan untuk memelihara kesehatan kota setelah beberapa tahun mengalami keterpurukan. Ia juga menyusun program baru pada masa pemerintahannya. Pemindahan kantor pusat pemerintahan VOC ke Weltevreden dilakukannya, karena kondisi kota di dalam benteng masih belum stabil setelah menyebarnya wabah malaria.
Gubernur jenderal diikuti pejabat tinggi lainnya pindah ke luar benteng, tempat yang diyakini lebih sehat dibandingkan di dalam benteng. Kastil Batavia sebagai kediaman gubernur jenderal kemudian hanya digunakan sebagai tempat melangsungkan acara-acara kedinasan saja.[31] Kepindahan ini diikuti penduduk Batavia yang lain. Mereka yang memiliki materi lebih bisa memilih beberapa tempat di sekitar kota untuk dijadikan tempat tinggal baru. Tempat tinggal baru yang dipilih oleh penduduk Batavia antara lain daerah pedesaan, sepanjang Molenvliet, daerah yang letaknya beberapa kilometer dari kota, dan Weltevreden dengna nuansa indah berupa rumah-rumah megah berberanda luas dan taman-taman cantik.
Penduduk sudah tidak bisa merasakan adanya kenyamanan jika mereka tetap hidup di kota. Mereka masih dibayangi keadaan yang tidak berangsur-angsur membaik. Lingkungan tempat tinggal mereka di dalam benteng masih tetap sama, tetap tidak sehat dan penuh penyakit. Setelah kepindahan mereka, Batavia semakin miskin penghuni dan pada akhirnya kosong. Para pegawai VOC yang masih hidup meninggalkan segala aktivitasnya di dalam benteng, begitu pula dengan budak dan orang-orang kelas menengah. Kemegahan Batavia telah sirna semenjak angka kematian dalam kota tersebut meningkat.
Kemunculan malaria yang meresahkan penduduk Batavia telah mengganggu segala aktivitas hidup penduduk. Kehidupan yang baru harus disusun kembali oleh penduduk sekalipun mereka harus pindah dari tempat tinggal mereka yang tidak sehat itu. VOC sebagai basis kekuatan terbesar di Batavia juga mengalami kerugian besar karena munculnya malaria. Berbagai aspek kehidupan di Batavia terganggu. Kegiatan ekonomi dan politik yang dijalankan VOC harus ditata ulang karena Batavia bukan lagi tempat yang memungkinkan bagi tempat pusat pemerintahan VOC. Kegiatan sosial penduduk dalam kota juga terganggu karena kesehatan mereka juga terganggu akibat wabah yang mematikan banyak pegawai VOC itu.


[1] Yanti Soeparmo, Runtuhnya Menara Azan : Jalinan Cinta dan Misteri di Tengah Pemberontakan Muslim Cilegon 1888 ( Bandung : Mizania, 2009), hlm 211.
[2] Mona Lohanda, Sejarah para Pembesar Mengatur Batavia (Jakarta : Masup, 2007), hlm 64-65.
[3] Susan Blackburn, Jakarta : 400 Tahun (Jakarta : Komunitas Bambu, 2011), hlm 56.
[4] Peter Van der Brug, “Batavia yang Tidak Sehat dan Kemerosotan VOC pada Abad Kedelapan Belas”, dalam Kees Grijns dan Peter J. M. Nas, Jakarta – Batavia : Esai Sosio – Kultural (Jakarta : Banana, 2007), hlm 51.           
[5] A. A. Loedin, “Keadaan Kesehatan di Batavia (Bagian I)” dalam http://www.tempo.co.id/medika/arsip/022003/top-1.htm diakses 5 Januari 2013, pukul 09.07
[6] Leonard Blusse, Pesekutuan Aneh : Pemukim Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC (Yogyakarta : LKiS, 2004), hlm 50, 51.
[7] A. A. Loedin, Op. Cit.
[8] Op. Cit., hlm 57.
[9] A. R. Soehoed, Banjir Ibukota : Tinjauan Historis & Pandangan ke Depan ( Jakarta : Djambatan, 2002), hlm 26.
[10] Leonard Blusse, Op. Cit., hlm. 52.
[11] Faisal Yatim, Macam-macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya (Jakarta : Pustaka Obor Populer, 2007), hlm 47.
[12] Peter Van der Brug, Op. Cit., hlm. 57
[13] Ibid., hlm 58.
[14] Ibid., hlm 56.
[15] Mona Lohanda, The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942 (Jakarta : Djambatan, 2001), hlm 2.
[16] Peter H. Van der Brug, Op. Cit., hlm. 53
[17] Lihat Faisal Yatim, Op. Cit., hlm. 48
[18] Peter H. Van der Brug, Op. Cit., hlm. 54
[19] Ibid., hlm 60, 61.
[20] Ibid., hlm 71.
[21] Ibid., hlm 58, 61
[22] Hembing Wijayakusuma, Pembantaian Massal 1740 : Tragedi Berdarah Angke (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2010), hlm 61.
[23] Arif Hartoyo, Teh dan Khasiatnya Bagi Kesehatan : Sebuah Tinjauan Ilmiah (Yogyakarta : Kanisius, 2003), hlm 9.
[24] Mona Lohanda, Op. Cit., hlm 68.
[25] Lihat Blusse, Op. Cit., hlm 56.
[26] M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2008 ( Jakarta : Serambi, 200), hlm 200.
[27] Denys Lombard, Nusa Jawa : Silang Budaya I - Batas-batas Pembaratan, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 2000), hlm 200.
[28] Peter H. Van der Brug, Op. Cit., hlm 58.
[29] Mona Lohanda, Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia, Op. Cit., hlm 67.
[30] Ibid., hlm 110-112.
[31] Ibid., hlm 69.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar