ini bukan hal yang mudah.
aku tidak seperti kamu yang bisa menjalaninya dengan mudah.
ini bukan tentang membiasakan diri untuk tidak bertemu,
ini soal komunikasi.
ya, aku memang terlalu memuakkan dengan kata-kata "komunikasi" yang mungkin tidak pernah berarti penting buatmu.
tapi
bagaimana aku bisa mengerti apa yang sedang kamu lakukan di sana?
bagaimana aku bisa tau kamu sedang dalam kondisi apa?
dan bagaimana aku bisa berbagi tentang kehidupanku di sini kepadamu?
tentu ini bukan perkara mudah.
tak semudah orang mengedipkan matanya, yang bahkan terkadang mereka tidak menyadari apakah mereka berkedip atau tidak.
bertahan itu masalah sulit, jika ada yang membuatnya bisa berdiri kokoh diterpa badai dan berbagai halangan lainnya.
bertahan itu perkara paling mudah, ketika keyakinan tetap disertai dengan dukungan dan kepedulian.
bertahan itu bisa dilakukan seberapa lama yang kita mau.
bertahan itu bisa kita wujudkan.
tapi tidak dengan kehampaan tanpa adanya jalinan komunikasi yang terhubung,
tidak dengan kepergian tanpa ucapan selamat tinggal,
tidak dengan masa bodoh yang bahkan bisa menghancurkan keyakinan dalam hati,
dan tidak dengan adanya penghasut-penghasut yang akan memperkeruh semua keadaan.
berpisah itu lebih baik, ketika semuanya dilakukan karena-Nya. karena Dia memang belum meridhai kebersamaan kita.
lebih baik, karena aku tidak akan mengkhawatirkan kamu yang belum halal untukku.
lebih baik, karena mereka yang ada di luar sana yang jauh lebih pantas dibandingkan dengan aku bisa kau pilih sesuai keinginanmu.
lebih baik, karena kamu tidak akan bersanding dengan kehinaan, ketidak sempurnaan dan keburukan.
lebih baik, karena memang ini yang terbaik.
entah kapan, pada akhirnya pasti aku akan mengerti apa yang selama ini membuat kita seperti ini. kita tak pernah tau setahun lagi, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, apa yang akan terjadi dengan perasaan kita, begitu katamu. aku tidak akan pernah mengerti kenapa kehidupan yang kurasakan sesulit ini, padahal kamu selalu baik-baik saja? aku tak pernah yakin, apa aku bisa melewati semuanya dengan keistiqamahan yang selalu aku usahakan. aku tak pernah bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok, lusa, bahkan kapanpun hingga waktunya tiba, dan aku tidak melihatmu lagi bersamaku.
terima kasih banyak untuk sepotong hati yang pernah kamu titipkan. terima kasih untuk nasihat dan tuntunan yang takkan berhenti memberikan manfaat dalam setiap nafas hidupku. maafkan aku tak pernah berupaya menjadi perhiasan dunia yang bisa membahagiakanmu. mungkin, orang lain yang lebih pantas lah yang bisa bersamamu. bukan aku. bukan perempuan yang belum bisa menjadi baik. bukan perempuan yang selalu tidak tahu diri. bukan perempuan yang selalu menuntut. bukan perempuan yang selalu memberikan segalanya tetapi menanti adanya timbal balik.
semoga kau selalu berada dalam keadaan baik di sana. semoga Allah selalu menjagamu, menguatkanmu dalam keistiqamahan, melancarkan segala urusanmu, memberikan keteguhan bagi keimananmu pada-Nya dan menjagamu dalam lindungan-Nya selalu. aamiin ya Rabb :)
Senin, 28 Januari 2013
Jumat, 18 Januari 2013
Output Skripsi Kecil - Semacam Tulisan Pertama sebagai Calon Sejarawan - Metode dan Praktik Penelitian Sejarah I
BAB II
PEMBAHASAN
2. 1. Kemunculan Malaria di Batavia
Semenjak dibangun oleh Gubernur Jenderal
Jan Pieterzoon Coen, Batavia berkembang menjadi kota yang megah dengan pesona
dan keindahan yang terkenal hingga di berbagai belahan dunia. Pusat
pemerintahan VOC ini dirancang sebagaimana kota-kota di Negeri Kincir Angin.
Banyak sekali bangunan-bangunan bergaya Eropa didirikan di Batavia. Orang-orang
Eropa yang tinggal di sana, benar-benar bermigrasi dan menetap di kota dalam
benteng tersebut. Kehidupan masyarakat Eropa di daerah tropis pun muncul di
Batavia.
Dari awal abad XVII, pembangunan Batavia
memang dilakukan tanpa rencana yang baik. Ketika itu VOC membutuhkan tempat
untuk pusat administrasinya. Maka dari itu, dibangunlah kota dalam sebuah
benteng besar yang terletak di tepi Sungai Ciliwung, atau yang lebih dikenal
dengan sebutan Groote Rivier dalam
bahasa Belanda. Kemudian Batavia diperluas hingga Sungai Ciliwung berada di
tengah dan membelah kota menjadi dua bagian, barat dan timur. Selanjutnya
Batavia berkembang lagi menjadi kota dengan reputasi yang sangat baik. Sungai
Ciliwung sebagai sungai yang terpenting bagi Batavia kala itu beraliran deras.
Alirannya diteruskan ke kanal-kanal di dalam kota serta berfungsi sebagai jalur
transportasi yang membawa kapal-kapal dari dan ke laut. Hingga akhir abad XVII,
Batavia menjadi kota terbaik di dunia dengan nuansa Eropa di daerah tropis.
Terlepas dari pesona dan kemegahan
Batavia, banyak sekali permasalahan lingkungan terjadi. Masalah lingkungan
bermula dari rusaknya drainase pada kanal-kanal yang dibangun semenjak abad
XVII.
“Batavia yang dikelilingi kanal dan benteng itu
kemudian menjadi sangat tidak sehat. Jumlah penduduk di dalam Kota Batavia
membengkak dan menimbulkan ancaman terhadap kebersihan kota. Kanal-kanal
tercemar gelontoran tinja dari rumah-rumah. Kanal juga menjadi saluran
pembuangan limbah dari puluhan tempat usaha pembuatan gula di dalam Kota
Batavia. Beban polusi air bertambah saat Sungai Ciliwung membawa material
vulkanik hasil letusan Gunung Salak pada 1669. Hal ini menyebabkan kanal-kanal
tersumbat lumpur dan sampah”.[1]
Uraian tersebut menggambarkan kondisi
lingkungan Batavia yang buruk. Kota dengan ciri khas Belanda di daerah tropis
itu terpuruk karena kotor dan kumuh. Batavia yang megah sebagai tempat
nostalgia orang-orang Belanda berubah menjadi kota penuh polusi dan tidak sehat.
Pola hidup penduduk dan perubahan yang terjadi pada lingkungan seakan
menghancurkan reputasi Batavia dengan julukannya “Ratu dari Timur”.
Kanal-kanal, yang dibangun oleh VOC
sebagai sistem drainase pencegah banjir, mulanya bermanfaat sebagai jalur
transportasi yang mengangkut barang dari Ommenlanden
menuju pelabuhan. Selain itu, orang-orang kaya di Batavia juga memanfaatkan
kanal sebagai jalur menyusuri kota. Namun fungsi kanal berganti menjadi tempat
penampungan segala jenis sisa yang dihasilkan manusia, karena pada awal abad
XVIII memang rumah-rumah penduduk di Batavia pada umumnya tidak memiliki kakus.
Jadi pembuangan langsung ditujukan ke kanal-kanal yang terletak di depan
halaman rumah penduduk. Tidak hanya kotoran manusia saja, bangkai binatang
terkadang dibiarkan membusuk setelah dibuang di kanal. Selain itu, limbah-limbah
hasil penggilingan tebu, pembakaran genteng dan tembikar, serta penyulingan
arak juga menambah pencemaran pada kanal-kanal.[2]
Sistem kanal yang dibangun pada
kenyataannya tidak membawa perbaikan bagi drainase di kota Batavia. Banjir
seringkali terjadi ketika musim penghujan tiba, karena aliran air pada kanal
tersumbat akibat air pasang bercampur pasir dan banyaknya lumpur yang terbawa
ke hilir. Kanal dengan aliran yang terhambat mengakibatkan adanya genangan air yang
juga berpotensi meluap apabila terjadi banjir. Air hujan yang bercampur dengan
kotoran dalam kanal yang menggenang kemudian membanjiri halaman rumah penduduk
yang bertempat tinggal di tepi kanal. Namun, ketika musim kemarau, kanal
mengalami sedimentasi dan memunculkan endapan-endapan lumpur yang berbau tidak
sedap.
Populasi kota yang kian padat juga
berkontribusi terhadap penyumbatan kanal[3].
Apalagi kebiasaan buruk penduduk dalam hal sanitasi, tentunya membawa dampak
pencemaran yang akhirnya merugikan
mereka sendiri. Kesadaran penduduk akan pentingnya menjaga kebersihan
lingkungan tidak begitu baik. Mereka lebih memilih membuang sampah dan limbah
di kanal. Parahnya lagi, mereka tidak pernah memiliki kesadaran untuk
membersihkan kanal dari berbagai kotoran yang ada di dalamnya. Padahal,
sebelumnya pemerintah telah memperingatkan penduduk agar tidak membuang sampah
sembarangan dan menjaga kebersihan lingkungan.
Bukan hanya masalah genangan air yang
tercemar di sepanjang kanal, pantai, tambak ikan, rawa dan pantai pun menjadi
sumber permasalahan lingkungan. Pada masa kekuasaan VOC, terdapat pantai dengan
hutan bakau lebat berbau menyengat yang berjarak sejauh satu kilometer lebih
antara kota dan laut. Pantai juga mengalami sedimentasi secara cepat. Menurut
Swaving, pendangkalan pantai memiliki kontribusi yang besar terhadap ketidak
sehatan Batavia. Penduduk di sepanjang pesisir pada awalnya telah mencurigai bahwa
sumber penyakit berasal dari pengendapan yang terjadi di pantai[4].
Rawa-rawa yang ada di Batavia, yang
terletak dekat dengan pantai pada mulanya merupakan sawah-sawah peninggalan
Pangeran Jayakarta yang tak terurus.[5] Baik
tambak ikan maupun rawa kemudian juga mengalami sedimentasi dan menyisakan
endapan lumpur, seperti halnya kanal-kanal yang ada di dalam kota. Sedimentasi
di tempat-tempat tersebut yang mengakibatkan udara di Batavia berbau busuk
layaknya “uap setan”.
Keadaan sanitasi yang tidak dikelola
dengan baik di Batavia pada perempat kedua abad XVIII juga menimbulkan krisis
air bersih. Krisis yang terjadi pada masa ini bukanlah krisis yang pertama
kalinya. Sejak 1720-an krisis air bersih sudah muncul di Batavia. Hal ini
berawal dari keadaan lingkungan yang tidak seimbang. Hutan-hutan digunduli dan
kayunya dipakai sebagai bahan bakar pabrik gula. Lama-kelamaan timbul erosi dan
sistem pengairan pun rusak karena limbah pabrik-pabrik gula mencemari air
sungai yang mengalir ke Batavia.[6] Selain
itu, pendangkalan dan penyusutan debit air Sungai Ciliwung juga terjadi akibat
banyaknya kanal yang digali. Penggalian kanal-kanal sebagai bagian dari
pembangunan Batavia yang tidak terencana dengan baik mengakibatkan air Sungai Ciliwung
tidak mampu membawa air dan bahannya hingga ke laut. Penyusutan debit air
selanjutnya menyebabkan sungai menjadi kotor dan semakin dangkal[7]
Krisis air bersih akhirnya berlanjut
hingga tahun 1730-an. Banyak sekali saluran air tercemar dan air yang memenuhi
standar kesehatan sulit ditemukan di dalam kota kala itu. Salah satu cara yang
dilakukan penduduk untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memanfaatkan air
kali yang didapat di selatan kota. Para pengambil air mengumpulkan air bersih
dan menampungnya di ember-ember yang dibawa dengan perahu, kemudian dijual
kepada penduduk.[8]
Adanya kerusakan lingkungan dan krisis
air bersih di Batavia ini mendorong pemerintah untuk melakukan beberapa upaya
demi memperbaiki lingkungan di Batavia yang berada dalam kondisi memprihatinkan
saat itu. Peringatan kepada penduduk untuk menjaga kebersihan lingkungan dan
tidak membuang sampah pada tempatnya tidak diindahkan. Beberapa kanal diurug
karena menambah pencemaran pada sistem drainase di Batavia, akan tetapi
hasilnya sia-sia. Kemudian muncul tindakan baru dari pemerintah untuk
menghadapi krisis air bersih, yaitu dengan kembali melakukan penggalian Mookervaart. Mookervaart adalah sebuah saluran air yang terletak di antara Kali
Cisadane dan Kali Angke. Saluran ini pernah digali sebelumnya pada 1678 dan
1689[9]. Diederick
Durven yang menjabat sebagai gubernur jenderal memerintahkan penggalian Mookervaart untuk mendapatkan lebih
banyak air bersih pada 1732, tetapi usahanya sia-sia.[10]
Buruknya lingkungan identik dengan
kemunculan penyakit, tak terkecuali Batavia. Sekalipun reputasinya diagungkan
karena pesona dan kemegahannya, Batavia yang mengalami kerusakan lingkungan
juga akhirnya menjadi sarang penyakit. Banyak penyakit yang muncul akibat keadaan
lingkungan Batavia yang memprihatinkan. Berbagai macam penyakit berasal dari
pencemaran sungai dan kanal yang menimbulkan adanya krisis air bersih. Dari
krisis air bersih penduduk Batavia semakin kesulitan mendapatkan air yang
sesuai standar kesehatan untuk kebutuhan sehari-hari mereka, seperti mandi,
mencuci, dan minum. Bukan hanya itu, bau busuk yang ditimbulkan oleh kotornya
sungai dan kanal juga menjadikan pencemaran udara yang mengganggu pernafasan
mereka.
Tahun 1733 menjadi puncak dari ketidak
sehatan di Batavia. Banyak penyakit yang muncul dan angka mortalitas meningkat
tajam. Penyakit-penyakit yang muncul akibat buruknya kondisi lingkungan Batavia
antara lain tifus, disentri, kolera, dan malaria. Sekalipun malaria bukanlah
satu-satunya yang mengancam kesehatan penduduk di Batavia, penyakit ini
merupakan penyakit yang paling parah dan paling mematikan. Van der Brug
menyatakan bahwa tidak ada bantahan mengenai malaria sebagai faktor utama
terkait ketidak sehatan Batavia setelah 1733. Ia menyebutkan tidak ada keraguan
dalam analisisnya, bahwa karakteristik ketidak sehatan dan peningkatan drastis angka kematian disebabkan
oleh kemunculan malaria.
Malaria merupakan penyakit yang
disebabkan oleh sporozoa dari genus Plasmodium
melalui perantaraan nyamuk Anopheles.
Pada umumnya Plasmodium tersebar di seluruh daerah tropis maupun sub tropis di
dunia, termasuk di Batavia, yang merupakan bagian dari Hindia Timur. Penyakit
ini ditandai dengan demam periodik, anemia, pembesaran limpa, dan berbagai
sindrom akibat gangguan hati, otak, dan ginjal. Penderita akan mengalami demam
disertai sakit kepala, mual dan muntah, bahkan diare. Selain itu, badan mereka
akan terasa lelah dan nyeri otot. Malaria pada tingkat yang parah akan
mengakibatkan terganggunya sistem organ penderita sehingga kesadaran mereka
terganggu, mengalami koma, dan akhirnya meninggal.[11]
Malaria bisa menyerang semua orang yang tidak memiliki kekebalan terhadapnya.
Penyakit ini bisa membahayakan keselamatan penderitanya apabila telah mencapai
tahap akut.
Di daerah tropis – termasuk di dalamnya
Batavia – terdapat dua jenis parasit penyebab malaria. Yang pertama adalah Plasmodium vivax yang mengakibatkan
penyakit malaria tertiana. Demamnya
tidak berbahaya. Pada mulanya nyamuk Anopheles mengigit penderita, kemudian
parasit dipindahkan ke tubuh penderita dan berkembang biak di hati korban.
Selanjutnya, muncullah demam tertian
yang bersifat periodik yang sekitar sepuluh hari dan muncul kembali tiap dua
hari. Yang kedua adalah Plasmodium falciparum yang membahayakan
penderita. Demamnya mematikan. Parasit tersebut menyebabkan penyakit malaria tropica yang hanya ditemui di
daerah tropis.[12] Jika tidak diatasi dengan
pil kina, malaria ini akan menyebabkan penderita meninggal. Parasit nyamuk akan
tetap hidup dalam darah dan hati penderita, berkembang biak dalam eritrosit hingga menimbulkan anemia
akut, memperlemah vitalitas, dan meningkatkan kerentanan terhadap serangan
penyakit yang lain.[13]
Tahun 1733 merupakan puncak dari
perkembangan penyakit malaria di Batavia. Nyamuk Anopheles, terutama betina bertelur di berbagai tempat-tempat
dengan endapan berbau busuk seperti pantai, rawa, kolam dan kanal-kanal. Nyamuk
Anopheles, penular malaria, pada
dasarnya tidak terbang jauh-jauh dari tempatnya bertelur. Nyamuk tersebut hanya
mengigit ketika hari sudah petang, sehingga infeksi malaria hanya terjadi pada
malam hari atau larut malam.[14]
Jadi, tidak ada kekhawatiran bagi penduduk Batavia ketika siang hari mereka
berada di luar rumah. Ketika hari sudah gelap, penduduk masuk ke dalam rumah
dan menutup semua jendela rumah mereka rapat-rapat.
2. 2. Batavia Terserang Malaria
Batavia
merupakan kota yang penduduknya terdiri atas berbagai etnis. Secara umum,
penduduk Batavia terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah
kelompok orang-orang Eropa, yakni
orang-orang Jerman, Swedia, Perancis, Denmark, Inggris, Portugis, dan
sebagainya. Kelompok kedua dikenal dengan nama Vreemde Oosterlingen atau Timur Asing, merupakan orang-orang Cina,
Arab, Armenia, India, Persia, dan lain sebagainya. Yang terakhir ialah kelompok
penduduk asli yang terdiri atas orang-orng Jawa, Bali, Ambon, Bugis, Melayu,
dan lain-lain. Terdapat klasifikasi penduduk lagi dalam tiap-tiap kelompok
penduduk yang telah dijelaskan di atas. Dalam kelompok-kelompok tersebut
terdapat beberapa klasifikasi, misalnya orang Hindia kelahiran Eropa, orang
Hindia kelahiran Cina dan Arab, serta orang-orang asli Hinda yang termasuk
dalam kategori orang bebas atau budak. [15]
Dalam suatu wilayah sudah pasti terjadi
dinamika penduduk, begitu pula dengan Batavia. Terlebih lagi, saat malaria
menjadi wabah yang menyerang Batavia, angka kematian menunjukkan peningkatan
tajam. Tidak ada keraguan lagi bahwa malaria menjadi pembunuh utama di Batavia.
Lingkungan buruk memicu perkembang biakan nyamuk Anopheles, kemudian
menyebarkan penyakit mematikan tersebut.
Penduduk Batavia pada 1730-an berada
dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Penduduk Batavia yang berasal dari
bermacam-macam etnis itu harus menanggung penderitaan akibat pola hidup mereka
yang tidak sehat dan faktor lingkungan itu. Mereka harus berada dalam sebuah
tempat mewabahnya penyakit yang bisa menyerang semua penduduk dari berbagai
kalangan dan usia.
Sebelum
1733, hanya sekitar 500 pegawai VOC yang meninggal di Batavia karena sakit.
Setelah 1733, terjadi peningkatan angka kematian menjadi 2000 hingga 3000 jiwa.
Pegawai-pegawai VOC merupakan kelompok penduduk Batavia dengan jumlah terbanyak
terjangkit malaria. Setiap tahun, antara 5000 sampai 6000 pegawai yang berasal
dari Eropa kemudian menjadi korban malaria setelah tiba di Batavia.[16]
Para pendatang memang termasuk salah satu dari tiga golongan yang mudah
terjangkit malaria – yang terdiri dari wanita hamil, pengungsi, dan pelaku
perjalanan - setelah menempuh perjalanan jauh dan tidak memiliki kekebalan
terhadap malaria.[17]
Angka kematian sekitar tahun 1733
mengalami peningkatan tajam, yakni dari 6% menjadi 50%. Angka kenaikan ini
dihitung berdasarkan jumlah pendatang baru di Batavia semenjak setengah tahun
kedatangan mereka. Kenaikan angka kematian tersebut tidak jauh berbeda dengan
kenaikan angka kematian di kalangan pegawai VOC.[18] Sejumlah
besar pegawai VOC terserang malaria, sehingga mereka tidak bisa bertugas
sebagaimana biasanya. Banyaknya kekosongan jabatan menimbulkan sedikit
kekacauan dalam pemerintahan VOC.
Kekalutan terjadi di Batavia. Pesona
kemegahan Batavia berubah menjadi situasi tidak sehat. Sebagian penduduk
menderita akibat wabah malaria. Keadaan fisik mereka berubah. Dalam laporannya
tahun 1735, Pavacini menyatakan bahwa pegawai VOC yang terjangkit malaria
terlihat seperti hantu. Kondisi badan mereka lemah. Serdadu, pelaut, dan
tukang-tukang juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Kebanyakan dari
pegawai VOC yang meninggal adalah mereka yang menghirup udara Batavia kurang
dari sepuluh tahun. Ketahanan tubuh mereka terhadap penyakit malaria berbeda dengan
para pegawai yang telah menetap lebih dari sepuluh tahun. Mereka yang masih
sepuluh tahun berada di Batavia masih belum dapat dinamis dan terbiasa dengan
lingkungan Batavia yang buruk.[19]
Pegawai lama yang lebih dari 10 tahun berada di Batavia telah memperoleh
imunisasi yang menjadikan mereka kebal terhadap malaria.
Selama periode 1733-1738, angka kematian
di kalangan penduduk Kristen dewasa mencapai 120 ribu per seribu setelah
malaria menjadi wabah di Batavia. Angka itu mengalami fluktuatif, dimulai dari
kenaikan sebesar 60 per seribu tiap tahun. Kematian di kalangan anak-anak juga
menunjukkan angka yang tinggi dibandingkan dengan orang dewasa yang memiliki
kekebalan setelah menjalani beberapa proses imunisasi.[20]
Harrison menyatakan bahwa tidak seperti pegawai
VOC dan orang-orang Eropa yang mudah terjangkit malaria, penduduk asli Batavia
yang berasal dari Hindia Timur justru lebih kebal terhadap malaria. Kebiasaan
mereka hidup dalam lingkungan yang tidak sehat tersebut meningkatkan kekebalan
mereka terhadap penyakit, terutama malaria. Selain itu, orang-orang bukan
penduduk asli yang jauh lebih lama tinggal di Batavia seperti halnya wanita
Eropa, warga bebas, orang Eurasia, Mardijker, dan Mestizo telah beradaptasi
terhadap lingkungan Batavia. Sekalipun malaria menyebar di lingkungan tempat
tinggal mereka, akan tetapi penyakit itu tidak mengganggu kelangsungan hidup
mereka. Mereka termasuk orang-orang yang kebal terhadap malaria. [21]
Orang-orang Cina yang juga terjangkit
malaria lebih sedikit jumlahnya bila dibandingkan dengan orang-orang Eropa,
khususnya pegawai VOC. Hal ini dikarenakan orang-orang Cina memiliki kebiasaan
hidup yang baik, yaitu minum air dan teh.[22]
Teh sangat bermanfaat bagi kesehatan. Selain menjadi tradisi yang sudah ada
sejak zaman nenek moyang mereka, teh juga menyebabkan orang-orang Cina itu
memiliki resiko yang kecil untuk terjangkit malaria. Kandungan flavonoid di
dalam teh – disebut dengan katekin – bersifat antioksidatif yang berfungsi
menangkal radikal bebas[23],
terutama dari lingkungan yang tercemar seperti Batavia.
Penyebaran malaria semakin meresahkan
penduduk Batavia. Pejabat-pejabat tinggi VOC pun tidak bisa terhindar dari
wabah penyakit itu. Berdasarkan catatan VOC, tercatat 14 orang anggota Dewan
Hindia yang menjadi korban malaria. Gubernur jenderal pun ikut terjangkit
penyakit tersebut. Dirk van Cloon yang menjabat sebagai gubernur jenderal kala
itu juga terserang penyakit malaria. Ia menjabat sebagai gubernur jenderal pada
periode 1732-1735, setelah Diederick Durven turun dari jabatan tersebut. Selain
Dirk van Cloon, menjadi korban terjangkit malaria juga dialami oleh Abraham
Patras yang menjabat sebagai gubernur jenderal tahun 1735-1737.[24]
Leonard Blusse memaparkan jumlah
kenaikan angka kematian di Rumah Sakit Batavia.[25]
Tahun 1729, angka kematian menunjuk pada angka 14,2%. Ini merupakan angka
kematian saat lingkungan Batavia masih dapat dinyatakan baik. Selanjutnya angka
itu naik menjadi 25,5% pada 1733, tahun dimana malaria sedang berada pada
puncak perkembangannya. Kenaikan kemudian terjadi lagi hingga mencapai angka
36,4% pada 1737.
Kematian di Batavia yang menunjukkan
angka tinggi berlanjut, meskipun wabah malaria di Batavia kian mereda. Wabah
tersebut tidak hilang seketika. Penduduk Batavia masih terus diresahkan oleh
wabah malaria hingga menjelang kejatuhan VOC. Sampai pada tahun 1795 telah tercatat
sebanyak 85.000 pegawai VOC yang meninggal akibat malaria. Malaria menjadi
ancaman bagi kesehatan penduduk Batavia dan eksistensi VOC. Banyak sekali
pegawai yang meninggal menyebabkan terjadinya kekosongan jabatan dalam struktur
pemerintahan VOC.
Malaria
menjadi wabah hebat yang bisa mengganti suasana Batavia yang tadinya sangat
menarik perhatian untuk dikunjungi menjadi kota dengan wabah yang bahkan bisa
menghilangkan nyawa penduduknya. Sang “Ratu dari Timur” berubah menjadi “Kota
Hantu” karena penduduknya yang terjangkit malaria mengalami deman dan terlihat
seperti hantu. Sekitar tahun 1733-1738, Batavia adalah kota tidak sehat yang
digambarkan sebagai kuburan orang-orang Belanda.
Kekacauan yang beasal dari segi kebersihan
lingkungan dan kesehatan menyebabkan makin buruknya reputasi Batavia.
2. 3. Upaya Penanggulangan Malaria
Malaria benar-benar menjadi faktor utama
meningkatnya mortalitas di Batavia. banyak sekali pegawai VOC yang meninggal
akibat terserang penyakit tersebut. Hal ini menimbulkan banyaknya terjadi
kekosongan dalam administrasi VOC, sehingga mulai terjadi kemunduran dalam VOC
dan kehancuran Batavia.
Banyaknya warga yang mati mendadak,
memunculkan aksi penanggulangan malaria di Batavia. Tahun 1734, diumumkan satu
hari untuk memanjatkan doa dan berpuasa agar Batavia benar-benar bersih dari
wabah malaria. Usaha yang dilakukan penduduk Batavia ini sia-sia, sebab malaria
tetap menjadi wabah yang mematikan di lingkungan tempat tinggal mereka. Tuhan
tidak mengabulkan permohonan penduduk Batavia, yang sering dianggap gembel
tidak bermoral dan bejat itu.[26]
Obat yang dapat menyembuhkan malaria
adalah kina. Kina diperkenalkan di Hindia Timur sebagai penyembuh malaria.
Kulit kayunya yang digunakan sebagai obat sangatlah terbatas karena harus didatangkan
dari Amerika ke Belanda, kemudian barulah dikirim dari Belanda ke Hindia Timur.
Sebelumnya, kina pernah didatangkan juga ke Batavia tahun 1638 untuk mengobati
Comterse del Chincon.[27]
Kina saat itu hanya bisa mengobati penderita malaria dari kalangan atas saja,
mengingat perolehannya yang sulit. Secara umum malaria di kalangan penduduk
Batavia tidak berhasil diobati dengan pil kina karena pemakaiannya hanya
menjagkau skala amat bersahaja.[28]
Pemerintah Tinggi Batavia melakukan
berbagai upaya dengan harga sangat mahal. Kesehatan kota berusaha dipulihkan
kembali. Yang dilakukan pemerintah dalam upayanya mengembalikan kesehatan
Batavia antara lain memperbaiki rumah-rumah yang seringkali dilanda banjir
akibat meluapnya kanal, membangun pintu-pintu air untuk mendapatkan air bersih
kembali, dan mengaliri saluran-saluran airnya. Selain itu, pemerintah juga
memindahkan tempat-tempat yang bisa memicu timbulnya limbah. Tempat-tempat
seperti penyulingan arak dan pengapuran dipindahkan ke luar kota. Gereja dan
pemakaman pun dipindahkan pula ke luar dari benteng yang tidak sehat itu.
Namun, semua usaha yang dilakukan pemerintah ini sia-sia. Tetap saja malaria menjadi
ancaman bagi kelangsungan hidup penduduk dan eksistensi Batavia.
2.4. Wabah
Malaria Berpengaruh Terhadap Berbagai Aspek Kehidupan di Batavia
Reputasi Batavia memburuk seiring dengan
buruknya keadaan lingkungannya. Wabah penyakit, malaria khususnya, merupakan
salah satu faktor penyebab kemunduran Batavia dan VOC. Penyakit yang menyebar
di berbagai kalangan penduduk Batavia itu menyebabkan melonjaknya angka
kematian di Batavia. Mayoritas penduduk penderita malaria adalah pegawai VOC
yang merupakan orang-orang yang tidak terbiasa dengan daerah tropis.
Dari periode menyebarnya malaria,
sekitar 1733-1738, VOC sudah mengalami banyak kerugian. Pegawainya berkurang,
VOC harus menyiapkan banyak tenaga baru untuk menggantikan mereka yang
terjangkit malaria. Keuntugan VOC yang rata-rata sebanyak 1 juta gulden harus
dipakai untuk menutup kerugian yang banyaknya 1,5 kali lebih banyak. Kerepotan
di kalangan VOC bertambah karena VOC harus membayar biaya rumah sakit dan
pelayanan kesehatan.[29]
Kerugian-kerugian yang dialami VOC itu nantinya muncul sebagai faktor pemicu
kemunduran VOC pada akhir abad XVIII dilihat dari sudut pandang kesehatan.
Setelah meninggalnya Gubernur Jenderal
Abraham Patras, Adriaan Valckenier naik jabatan untuk mengantikannya. Kondisi
Batavia sepeninggal Abraham Patras belum stabil. Malaria masih menghantui
Batavia. Ditambah lagi, pembantaian terhadap orang-orang Cina pada 1740
memperburuk situasi Batavia. Valckenier tidak bisa mengambil tindakan secara
bijaksana terhadap adanya pembantaian tersebut. Hubungannya dengan Heeren Zeventien juga tidak begitu baik.
Selain itu, dia juga berseteru dengan anggota Dewan Hindia yang merangkap
sebagai gubernur di Srilangka. Pemerintahan Valckenier yang tidak memuaskan
bagi berbagai pihak ini membuatnya dipecat dan kemudian digantikan dengan Baron
Gustaaf Willem Van Imhoff.[30]
Pada masa awal pemerintahannya, Van Imhoff
memberlakukan suatu kebijakan untuk memelihara kesehatan kota setelah beberapa
tahun mengalami keterpurukan. Ia juga menyusun program baru pada masa
pemerintahannya. Pemindahan kantor pusat pemerintahan VOC ke Weltevreden dilakukannya, karena kondisi
kota di dalam benteng masih belum stabil setelah menyebarnya wabah malaria.
Gubernur jenderal diikuti pejabat tinggi
lainnya pindah ke luar benteng, tempat yang diyakini lebih sehat dibandingkan
di dalam benteng. Kastil Batavia sebagai kediaman gubernur jenderal kemudian
hanya digunakan sebagai tempat melangsungkan acara-acara kedinasan saja.[31]
Kepindahan ini diikuti penduduk Batavia yang lain. Mereka yang memiliki materi
lebih bisa memilih beberapa tempat di sekitar kota untuk dijadikan tempat
tinggal baru. Tempat tinggal baru yang dipilih oleh penduduk Batavia antara
lain daerah pedesaan, sepanjang Molenvliet, daerah yang letaknya beberapa
kilometer dari kota, dan Weltevreden dengna nuansa indah berupa rumah-rumah
megah berberanda luas dan taman-taman cantik.
Penduduk sudah tidak bisa merasakan
adanya kenyamanan jika mereka tetap hidup di kota. Mereka masih dibayangi
keadaan yang tidak berangsur-angsur membaik. Lingkungan tempat tinggal mereka
di dalam benteng masih tetap sama, tetap tidak sehat dan penuh penyakit.
Setelah kepindahan mereka, Batavia semakin miskin penghuni dan pada akhirnya kosong.
Para pegawai VOC yang masih hidup meninggalkan segala aktivitasnya di dalam
benteng, begitu pula dengan budak dan orang-orang kelas menengah. Kemegahan
Batavia telah sirna semenjak angka kematian dalam kota tersebut meningkat.
Kemunculan malaria yang meresahkan
penduduk Batavia telah mengganggu segala aktivitas hidup penduduk. Kehidupan
yang baru harus disusun kembali oleh penduduk sekalipun mereka harus pindah
dari tempat tinggal mereka yang tidak sehat itu. VOC sebagai basis kekuatan
terbesar di Batavia juga mengalami kerugian besar karena munculnya malaria.
Berbagai aspek kehidupan di Batavia terganggu. Kegiatan ekonomi dan politik
yang dijalankan VOC harus ditata ulang karena Batavia bukan lagi tempat yang
memungkinkan bagi tempat pusat pemerintahan VOC. Kegiatan sosial penduduk dalam
kota juga terganggu karena kesehatan mereka juga terganggu akibat wabah yang
mematikan banyak pegawai VOC itu.
[1]
Yanti Soeparmo, Runtuhnya Menara Azan :
Jalinan Cinta dan Misteri di Tengah Pemberontakan Muslim Cilegon 1888 ( Bandung
: Mizania, 2009), hlm 211.
[2]
Mona Lohanda, Sejarah para Pembesar
Mengatur Batavia (Jakarta : Masup, 2007), hlm 64-65.
[3]
Susan Blackburn, Jakarta : 400 Tahun
(Jakarta : Komunitas Bambu, 2011), hlm 56.
[4]
Peter Van der Brug, “Batavia yang Tidak Sehat dan Kemerosotan VOC pada Abad
Kedelapan Belas”, dalam Kees Grijns dan Peter J. M. Nas, Jakarta – Batavia : Esai Sosio – Kultural (Jakarta : Banana, 2007),
hlm 51.
[5]
A. A. Loedin, “Keadaan Kesehatan di Batavia (Bagian I)” dalam http://www.tempo.co.id/medika/arsip/022003/top-1.htm
diakses 5 Januari 2013, pukul 09.07
[6]
Leonard Blusse, Pesekutuan Aneh : Pemukim
Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC (Yogyakarta : LKiS, 2004),
hlm 50, 51.
[7]
A. A. Loedin, Op. Cit.
[8]
Op. Cit., hlm 57.
[9] A. R. Soehoed, Banjir Ibukota : Tinjauan Historis &
Pandangan ke Depan ( Jakarta : Djambatan, 2002), hlm 26.
[10] Leonard Blusse,
Op. Cit., hlm. 52.
[11]
Faisal Yatim, Macam-macam Penyakit
Menular dan Cara Pencegahannya (Jakarta : Pustaka Obor Populer, 2007), hlm
47.
[12] Peter Van der
Brug, Op. Cit., hlm. 57
[13]
Ibid., hlm 58.
[14] Ibid., hlm 56.
[15] Mona Lohanda, The Kapitan Cina of Batavia 1837-1942
(Jakarta : Djambatan, 2001), hlm 2.
[16]
Peter H. Van der Brug, Op. Cit., hlm.
53
[17]
Lihat Faisal Yatim, Op. Cit., hlm. 48
[18]
Peter H. Van der Brug, Op. Cit., hlm.
54
[19]
Ibid., hlm 60, 61.
[20]
Ibid., hlm 71.
[21]
Ibid., hlm 58, 61
[22]
Hembing Wijayakusuma, Pembantaian Massal
1740 : Tragedi Berdarah Angke (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2010), hlm
61.
[23]
Arif Hartoyo, Teh dan Khasiatnya Bagi
Kesehatan : Sebuah Tinjauan Ilmiah (Yogyakarta : Kanisius, 2003), hlm 9.
[24]
Mona Lohanda, Op. Cit., hlm 68.
[25]
Lihat Blusse, Op. Cit., hlm 56.
[26]
M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern
1200 – 2008 ( Jakarta : Serambi, 200), hlm 200.
[27]
Denys Lombard, Nusa Jawa : Silang Budaya
I - Batas-batas Pembaratan, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 2000), hlm
200.
[28]
Peter H. Van der Brug, Op. Cit., hlm
58.
[29]
Mona Lohanda, Sejarah Para Pembesar
Mengatur Batavia, Op. Cit., hlm 67.
[30]
Ibid., hlm 110-112.
[31]
Ibid., hlm 69.
Langganan:
Komentar (Atom)