Senin, 13 Mei 2013

corat-coret #2

Tuhan, jujur aku tak mampu lagi harus meluapkan semuanya dengan kata-kata yang bisa aku ucapkan. Aku hanya bisa meluapkannya dengan menulis. Di sini. Di tempat yang tidak banyak orang tahu tentang apa yang aku rasakan sekarang. Biarkan aku memulai semua yang ingin ku katakan.

Aku rapuh ketika semua ujian berat itu menerpaku. Aku berusaha untuk mengambil celah, seberapapun sulitnya itu, untuk tetap bersyukur atas semua yang Engkau berikan, karena pada akhirnya aku bisa melewati ujian hidupku satu per satu. Tuhan, aku sangat berterima kasih karena Engkau telah meringankan beban-bebanku. Mengangkat segala macam persoalan yang bernaung di pikiranku. Memudahkan kakiku untuk melangkah, menyelesaikan semuanya. Menyelesaikan semua permasalahan, tentunya dengan kuasa-Mu.

Ya Allah, beruntung sekali aku hidup di antara teman-temanku sekarang. Teman-teman yang menyayangi aku, mengerti segala persoalanku, menyediakan telinganya untuk mendengarkan aku berbagi tentang kesedihanku. Satu hal yang ingin kubilang, semuanya berubah. Ya, berubah. Seperti debu yang tertiup angin dan pergi entah kemana hingga menjadi debu baru. Sama halnya dengan mereka. Mereka yang kupikir benar-benar bisa mengerti aku dalam semua keadaan, melebihi seseorang yang teramat menjadi kesayangan sekalipun, kini hanya bisa berucap sesuka mulut mereka sendiri. Berucap tanpa memikirkan reaksiku dengan kata-katanya. Berucap seakan semuanya mudah dilewati, semudah dia melontarkan kata-kata itu. Kini mereka lebih sering menyibukkan diri mereka dengan urusan baru. Urusan hati masing-masing yang tak seorang pun bisa berwenang untuk mengusiknya. Tinggallah aku dengan segenap kerapuhanku. Tapi aku masih punya Engkau yang selalu memberikan aku segalanya.

Aku memang seorang drama queen seperti kata mereka. Aku memang tidak berusaha meyakinkan diriku sendiri meski aku sebenarnya bisa lebih kuat. Aku hanya pura-pura lemah. Menyeret semua kesedihan-kesedihan itu dan membawanya meracuni semua bagian hidupku. Tapi inilah aku. Aku perasa, aku tak bisa begitu saja melepas semua kenangan yang telah kulewati. Aku masih harus bergelut dengan masa laluku yang harusnya bisa kusimpan dengan rapi. Aku masih harus memasukkan dia dalam kehidupanku, ya Allah. Ini parah sekali. Ini yang membuat aku makin terpuruk hingga akhirnya merasa semuanya menjadi beban.
Sakit adalah ketika orang lain berucap semau mulut dia tanpa dia membayangkan menjadi aku. Membayangkan? Bahkan sekedar pura-pura merasakan pun tidak. Ya, karena dia punya yang dia mau. Karena dia tidak sedang berada dalam keadaan tersulit.

Aku memang harusnya lebih dewasa menyikapi ini semua. Aku harusnya lebih bisa mengontrol diriku hingga mereka puas berbahagia di atas pijakan kaki mereka sendiri sambil membutakan mata bahwa aku berada dalam satu sisi kecil kehidupan mereka. Cukup. Ini sudah keterlaluan. Aku lebih berpikir untuk membiarkan diriku sendiri menjalani semuanya tanpa mereka harus tahu. Tanpa mereka harus berucap sesuka mereka. Di depan aku. Lebih baik semuanya membisu, daripada komunikasi yang akan mencemari hubungan di antara aku dan mereka. Mereka takkan pernah tahu bagaimana menjadi aku. Menghadapi berbagai persoalan hidup yang datang beriringan, menyelesaikan dan melangkah sendiri meski itu terpaksa, berusaha dan berdoa untuk mengangkat beban pikiran dengan meminta kepada-Mu agar semuanya dimudahkan dan diringankan.

Mereka hanya peduli pada kebahagiaan mereka sendiri. Memamerkan kebahagiaan itu. Mencemooh yang tidak setingkat dengan taraf kebahagiaan mereka. Menjadi manusia yang baru, yang membuatku semakin berlaku jahat pada mereka karena aku harus membenci mereka secara perlahan dengan menyaksikan perilaku mereka sendiri. Cukup.

Semoga aku bisa melewatinya ya Rabb. Ini hanya masalah waktu. Ketika tiba saatnya, obat akan muncul untuk menghilangkan semua penyakit yang ada di hatiku.

Kamis, 11 April 2013

Entahlah T.T

Aku tak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi padaku. Mungkin ini terlalu berlebihan, tapi aku sendiri memang merasakannya. Aku memang orang yang terlalu perasa, juga segalanya harus dipikirkan sampai harus membebani pikiranku sendiri. Aku tak pernah tahu kenapa semuanya bisa seperti ini. Aku seperti kehilangan kekuatanku untuk hidup. Segalanya tak semudah yang aku kira. Aku pikir aku kuat, tapi ternyata aku berbohong dengan sikap sok kuatku itu.

Awalnya aku tak tahu, apa penyebabnya hingga aku jadi seperti ini. Aku tahu ini tidak akan mudah untuk diriku sendiri. Ini ujian hidup. Walaupun ujian hidup itu akan bisa terlewati karena tak pernah melampaui batas kemampuan yang diberikan-Nya padaku. Aku hanya butuh bersabar, ikhlas menghadapi segala yang kudapati hingga sekarang, dan tak melupakan bagaimana bersyukur atas yang aku dapat.
Semuanya terjadi seiring berbagai permasalahan datang. Hei, bukankah dalam hidup ini tak pernah ada seseorang yang lepas dari masalah, sekecil apapun itu? Ya, tapi begitu berat ketika semuanya berdatangan dalam rentang yang dekat. 

Aku tak akan menyalahkan siapapun. Inti dari semua permasalahan adalah aku sendiri. Aku terlalu memikirkannya. Aku terlalu membebani otakku sendiri. Tapi aku memang merasakan semuanya. Begitu berat untukku. Terkadang pikiran bodohku timbul akibat hal itu. Aku merasa aku terlalu sering jatuh dalam keterpurukan tanpa benar-benar tahu dan paham apa yang menyebabkannya. 

Aku merasa semua yang aku lakukan tak pernah lari jauh dari kebaikan. Aku pikir semuanya telah aku usahakan. Aku hanya mengupayakan untuk selalu berbuat baik. Namun ujian itu begitu berat. Aku merasa aku tak pernah mendapatkan apa yang bisa orang lain dapatkan. Memang, itu telah menjadi rezeki bagi masing-masing manusia. Harusnya aku tak pernah memprotes ketika 'rumput tetangga lebih hijau'. Aku juga tak selayaknya tidak menerima semua takdir yang telah tergariskan untukku.

Sekarang, semuanya terasa hambar. Semangatku hilang. Aku yang dulu berusaha untuk bangkit dari berbagai kesedihan akibat masalah yang tidak penting kini berubah menjadi seonggok manusia tak berguna. Tidak produktif. Batas kemalasanku dulu masih bisa ditoleransi, sekarang tidak. Kemalasanku dulu bisa membuatku menyelesaikan semua tugas-tugasku sekalipun itu tidak maksimal. Sekarang, menyentuh tugas-tugasku pun rasanya enggan. Aku sudah benar-benar tidak mau lagi. Aku seakan lari dari tanggung jawabku sendiri. Seperti melangkah mundur dari semua mimpi yang telah aku rajut. 

Sampai kapan aku akan seperti ini? Membunuh semua mimpiku secara perlahan. Menikam hati kedua orang yang paling berharga dalam hidupku pelan-pelan. Mengecewakan mereka yang selalu berdoa untukku dalam kondisi tersulit mereka. Kapan aku akan ikhlas? Melakukan semuanya untuk mendapatkan ridha-Nya. Tidak memedulikan lagi hal-hal yang tidak berguna bagi diriku sendiri. Meninggalkan kebiasan buruk dan mulai bangkit untuk menjadi aku yang lebih baik. 

Selasa, 09 April 2013

Kamu :)

Ini foto kapan yaa? Aku sendiri ngga ngerti kapan kamu foto kaya gini, Mas. hahaha

Yang ini aku lebih ngga ngerti dimana :p

Liat tuh, gagah kan Mamas akyu? :D

Yang ini ganteng ya? hehehe

The Only One Unforgetable Memory with you :*

Dokter? Bukan! Dia perawat :)

Ini dia hasil editan saya :))

Yang ngga pernah pengen bikin saya kecewa, yang paling bingung kalau saya nangis 

si pinky mungil cantik ini hadiah dari dia lo, 24 Desember 2012 :* :* :*

Entah apa yang ada di pikiran kamu ketika kamu berbagi tautan ini, buat siapa? :o