Jumat, 31 Mei 2013
Selasa, 21 Mei 2013
Senin, 13 Mei 2013
corat-coret #2
Tuhan, jujur aku tak mampu lagi harus meluapkan semuanya dengan kata-kata yang bisa aku ucapkan. Aku hanya bisa meluapkannya dengan menulis. Di sini. Di tempat yang tidak banyak orang tahu tentang apa yang aku rasakan sekarang. Biarkan aku memulai semua yang ingin ku katakan.
Aku rapuh ketika semua ujian berat itu menerpaku. Aku berusaha untuk mengambil celah, seberapapun sulitnya itu, untuk tetap bersyukur atas semua yang Engkau berikan, karena pada akhirnya aku bisa melewati ujian hidupku satu per satu. Tuhan, aku sangat berterima kasih karena Engkau telah meringankan beban-bebanku. Mengangkat segala macam persoalan yang bernaung di pikiranku. Memudahkan kakiku untuk melangkah, menyelesaikan semuanya. Menyelesaikan semua permasalahan, tentunya dengan kuasa-Mu.
Ya Allah, beruntung sekali aku hidup di antara teman-temanku sekarang. Teman-teman yang menyayangi aku, mengerti segala persoalanku, menyediakan telinganya untuk mendengarkan aku berbagi tentang kesedihanku. Satu hal yang ingin kubilang, semuanya berubah. Ya, berubah. Seperti debu yang tertiup angin dan pergi entah kemana hingga menjadi debu baru. Sama halnya dengan mereka. Mereka yang kupikir benar-benar bisa mengerti aku dalam semua keadaan, melebihi seseorang yang teramat menjadi kesayangan sekalipun, kini hanya bisa berucap sesuka mulut mereka sendiri. Berucap tanpa memikirkan reaksiku dengan kata-katanya. Berucap seakan semuanya mudah dilewati, semudah dia melontarkan kata-kata itu. Kini mereka lebih sering menyibukkan diri mereka dengan urusan baru. Urusan hati masing-masing yang tak seorang pun bisa berwenang untuk mengusiknya. Tinggallah aku dengan segenap kerapuhanku. Tapi aku masih punya Engkau yang selalu memberikan aku segalanya.
Aku memang seorang drama queen seperti kata mereka. Aku memang tidak berusaha meyakinkan diriku sendiri meski aku sebenarnya bisa lebih kuat. Aku hanya pura-pura lemah. Menyeret semua kesedihan-kesedihan itu dan membawanya meracuni semua bagian hidupku. Tapi inilah aku. Aku perasa, aku tak bisa begitu saja melepas semua kenangan yang telah kulewati. Aku masih harus bergelut dengan masa laluku yang harusnya bisa kusimpan dengan rapi. Aku masih harus memasukkan dia dalam kehidupanku, ya Allah. Ini parah sekali. Ini yang membuat aku makin terpuruk hingga akhirnya merasa semuanya menjadi beban.
Sakit adalah ketika orang lain berucap semau mulut dia tanpa dia membayangkan menjadi aku. Membayangkan? Bahkan sekedar pura-pura merasakan pun tidak. Ya, karena dia punya yang dia mau. Karena dia tidak sedang berada dalam keadaan tersulit.
Aku memang harusnya lebih dewasa menyikapi ini semua. Aku harusnya lebih bisa mengontrol diriku hingga mereka puas berbahagia di atas pijakan kaki mereka sendiri sambil membutakan mata bahwa aku berada dalam satu sisi kecil kehidupan mereka. Cukup. Ini sudah keterlaluan. Aku lebih berpikir untuk membiarkan diriku sendiri menjalani semuanya tanpa mereka harus tahu. Tanpa mereka harus berucap sesuka mereka. Di depan aku. Lebih baik semuanya membisu, daripada komunikasi yang akan mencemari hubungan di antara aku dan mereka. Mereka takkan pernah tahu bagaimana menjadi aku. Menghadapi berbagai persoalan hidup yang datang beriringan, menyelesaikan dan melangkah sendiri meski itu terpaksa, berusaha dan berdoa untuk mengangkat beban pikiran dengan meminta kepada-Mu agar semuanya dimudahkan dan diringankan.
Mereka hanya peduli pada kebahagiaan mereka sendiri. Memamerkan kebahagiaan itu. Mencemooh yang tidak setingkat dengan taraf kebahagiaan mereka. Menjadi manusia yang baru, yang membuatku semakin berlaku jahat pada mereka karena aku harus membenci mereka secara perlahan dengan menyaksikan perilaku mereka sendiri. Cukup.
Semoga aku bisa melewatinya ya Rabb. Ini hanya masalah waktu. Ketika tiba saatnya, obat akan muncul untuk menghilangkan semua penyakit yang ada di hatiku.
Aku rapuh ketika semua ujian berat itu menerpaku. Aku berusaha untuk mengambil celah, seberapapun sulitnya itu, untuk tetap bersyukur atas semua yang Engkau berikan, karena pada akhirnya aku bisa melewati ujian hidupku satu per satu. Tuhan, aku sangat berterima kasih karena Engkau telah meringankan beban-bebanku. Mengangkat segala macam persoalan yang bernaung di pikiranku. Memudahkan kakiku untuk melangkah, menyelesaikan semuanya. Menyelesaikan semua permasalahan, tentunya dengan kuasa-Mu.
Ya Allah, beruntung sekali aku hidup di antara teman-temanku sekarang. Teman-teman yang menyayangi aku, mengerti segala persoalanku, menyediakan telinganya untuk mendengarkan aku berbagi tentang kesedihanku. Satu hal yang ingin kubilang, semuanya berubah. Ya, berubah. Seperti debu yang tertiup angin dan pergi entah kemana hingga menjadi debu baru. Sama halnya dengan mereka. Mereka yang kupikir benar-benar bisa mengerti aku dalam semua keadaan, melebihi seseorang yang teramat menjadi kesayangan sekalipun, kini hanya bisa berucap sesuka mulut mereka sendiri. Berucap tanpa memikirkan reaksiku dengan kata-katanya. Berucap seakan semuanya mudah dilewati, semudah dia melontarkan kata-kata itu. Kini mereka lebih sering menyibukkan diri mereka dengan urusan baru. Urusan hati masing-masing yang tak seorang pun bisa berwenang untuk mengusiknya. Tinggallah aku dengan segenap kerapuhanku. Tapi aku masih punya Engkau yang selalu memberikan aku segalanya.
Aku memang seorang drama queen seperti kata mereka. Aku memang tidak berusaha meyakinkan diriku sendiri meski aku sebenarnya bisa lebih kuat. Aku hanya pura-pura lemah. Menyeret semua kesedihan-kesedihan itu dan membawanya meracuni semua bagian hidupku. Tapi inilah aku. Aku perasa, aku tak bisa begitu saja melepas semua kenangan yang telah kulewati. Aku masih harus bergelut dengan masa laluku yang harusnya bisa kusimpan dengan rapi. Aku masih harus memasukkan dia dalam kehidupanku, ya Allah. Ini parah sekali. Ini yang membuat aku makin terpuruk hingga akhirnya merasa semuanya menjadi beban.
Sakit adalah ketika orang lain berucap semau mulut dia tanpa dia membayangkan menjadi aku. Membayangkan? Bahkan sekedar pura-pura merasakan pun tidak. Ya, karena dia punya yang dia mau. Karena dia tidak sedang berada dalam keadaan tersulit.
Aku memang harusnya lebih dewasa menyikapi ini semua. Aku harusnya lebih bisa mengontrol diriku hingga mereka puas berbahagia di atas pijakan kaki mereka sendiri sambil membutakan mata bahwa aku berada dalam satu sisi kecil kehidupan mereka. Cukup. Ini sudah keterlaluan. Aku lebih berpikir untuk membiarkan diriku sendiri menjalani semuanya tanpa mereka harus tahu. Tanpa mereka harus berucap sesuka mereka. Di depan aku. Lebih baik semuanya membisu, daripada komunikasi yang akan mencemari hubungan di antara aku dan mereka. Mereka takkan pernah tahu bagaimana menjadi aku. Menghadapi berbagai persoalan hidup yang datang beriringan, menyelesaikan dan melangkah sendiri meski itu terpaksa, berusaha dan berdoa untuk mengangkat beban pikiran dengan meminta kepada-Mu agar semuanya dimudahkan dan diringankan.
Mereka hanya peduli pada kebahagiaan mereka sendiri. Memamerkan kebahagiaan itu. Mencemooh yang tidak setingkat dengan taraf kebahagiaan mereka. Menjadi manusia yang baru, yang membuatku semakin berlaku jahat pada mereka karena aku harus membenci mereka secara perlahan dengan menyaksikan perilaku mereka sendiri. Cukup.
Semoga aku bisa melewatinya ya Rabb. Ini hanya masalah waktu. Ketika tiba saatnya, obat akan muncul untuk menghilangkan semua penyakit yang ada di hatiku.
Langganan:
Komentar (Atom)