Entahlah ini egois atau apa, tidak setia kawan atau apa, berlebihan dan kekanak-kanakan mungkin. Tapi ini memang bikin jengkel. Kamu tau ngga, rasanya gimana hidup dalam ketidak-serba-adaan dan kamu harus bergerak lebih banyak dibandingkan orang lain? Ngga pernah ngerti ya? Hidup dalam suatu keadaan yang terbatas itu harusnya bikin kamu bisa berpikir lebih keras, lebih dewasa, lebih ngerti gimana caranya survive tanpa menghilangkan kebahagiaan.
Kamu ngga akan ngerti gimana caranya membahagiakan mereka yang sayang kamu dengan usahamu. Di pikiran kamu yang ada cuma gimana bahagia, gimana bahagia tapi ngga mau berkorban buat dapetin kebahagiaan itu. Kamu pengen semuanya instant. Iya, seinstant minta gambaran ngerjain tugas dengan dalih ngga akan melakukan plagiasi. Padahal di sisi lain kamu ngga pernah ngerti kan, orang yang kamu mintai tolong dan kamu modusin itu harus kerja lebih keras dibanding kamu? Dimana sih pikirannya?
Ngerti ngga kalau orang lain belum tentu berada di posisi seenak kamu? Ngga ngerti ya? Mikir enaknya doang sih!
Kamu ngga berpikir apa, kamu butuh ngerjain tugas itu sendiri ya, ngga usah minta-minta terus sok-sok bilang terima kasih berlebihan gitu. Lebay banget emang, cuman dicontekin kaya gitu tapi aku harus ngomong panjang lebar macem gini. Tapi dimana sih rasa simpati kamu sama temenmu sendiri? Tugasmu hampir beres, tugasku? Belum lagi aku ada tugas lain di luar kuliah. Aku belum selesai banyak ya, dan aku harus rela tidur larut terus untuk mikirin tugasku. Terus dimana sih kepedulian kamu? Aku benci banget ya, benci banget. Ini bawaan egois, tapi aku ngga suka orang memanfaatkan aku dengan cara kaya gitu. Kenapa ngga usaha sendiri? Sedangkan kamu juga ngga pernah kan peduli sama tugas-tugasku? Ya karena emang itu kewajibanku sendiri dan aku wajib selesaikan sendiri. Tapi aku bener-bener ngga suka, kamu ngga usaha sama sekali, liat kerjaan orang, menyalinnya dengan versimu sendiri, sedangkan kamu ngga pernah tergerak hatinya untuk merasa butuh akan kewajiban kamu. Dimana sih tanggung jawabnya?
Heyvie :)
get your happiness with your own way
Minggu, 30 Juni 2013
Rabu, 05 Juni 2013
Jumat, 31 Mei 2013
Selasa, 21 Mei 2013
Senin, 13 Mei 2013
corat-coret #2
Tuhan, jujur aku tak mampu lagi harus meluapkan semuanya dengan kata-kata yang bisa aku ucapkan. Aku hanya bisa meluapkannya dengan menulis. Di sini. Di tempat yang tidak banyak orang tahu tentang apa yang aku rasakan sekarang. Biarkan aku memulai semua yang ingin ku katakan.
Aku rapuh ketika semua ujian berat itu menerpaku. Aku berusaha untuk mengambil celah, seberapapun sulitnya itu, untuk tetap bersyukur atas semua yang Engkau berikan, karena pada akhirnya aku bisa melewati ujian hidupku satu per satu. Tuhan, aku sangat berterima kasih karena Engkau telah meringankan beban-bebanku. Mengangkat segala macam persoalan yang bernaung di pikiranku. Memudahkan kakiku untuk melangkah, menyelesaikan semuanya. Menyelesaikan semua permasalahan, tentunya dengan kuasa-Mu.
Ya Allah, beruntung sekali aku hidup di antara teman-temanku sekarang. Teman-teman yang menyayangi aku, mengerti segala persoalanku, menyediakan telinganya untuk mendengarkan aku berbagi tentang kesedihanku. Satu hal yang ingin kubilang, semuanya berubah. Ya, berubah. Seperti debu yang tertiup angin dan pergi entah kemana hingga menjadi debu baru. Sama halnya dengan mereka. Mereka yang kupikir benar-benar bisa mengerti aku dalam semua keadaan, melebihi seseorang yang teramat menjadi kesayangan sekalipun, kini hanya bisa berucap sesuka mulut mereka sendiri. Berucap tanpa memikirkan reaksiku dengan kata-katanya. Berucap seakan semuanya mudah dilewati, semudah dia melontarkan kata-kata itu. Kini mereka lebih sering menyibukkan diri mereka dengan urusan baru. Urusan hati masing-masing yang tak seorang pun bisa berwenang untuk mengusiknya. Tinggallah aku dengan segenap kerapuhanku. Tapi aku masih punya Engkau yang selalu memberikan aku segalanya.
Aku memang seorang drama queen seperti kata mereka. Aku memang tidak berusaha meyakinkan diriku sendiri meski aku sebenarnya bisa lebih kuat. Aku hanya pura-pura lemah. Menyeret semua kesedihan-kesedihan itu dan membawanya meracuni semua bagian hidupku. Tapi inilah aku. Aku perasa, aku tak bisa begitu saja melepas semua kenangan yang telah kulewati. Aku masih harus bergelut dengan masa laluku yang harusnya bisa kusimpan dengan rapi. Aku masih harus memasukkan dia dalam kehidupanku, ya Allah. Ini parah sekali. Ini yang membuat aku makin terpuruk hingga akhirnya merasa semuanya menjadi beban.
Sakit adalah ketika orang lain berucap semau mulut dia tanpa dia membayangkan menjadi aku. Membayangkan? Bahkan sekedar pura-pura merasakan pun tidak. Ya, karena dia punya yang dia mau. Karena dia tidak sedang berada dalam keadaan tersulit.
Aku memang harusnya lebih dewasa menyikapi ini semua. Aku harusnya lebih bisa mengontrol diriku hingga mereka puas berbahagia di atas pijakan kaki mereka sendiri sambil membutakan mata bahwa aku berada dalam satu sisi kecil kehidupan mereka. Cukup. Ini sudah keterlaluan. Aku lebih berpikir untuk membiarkan diriku sendiri menjalani semuanya tanpa mereka harus tahu. Tanpa mereka harus berucap sesuka mereka. Di depan aku. Lebih baik semuanya membisu, daripada komunikasi yang akan mencemari hubungan di antara aku dan mereka. Mereka takkan pernah tahu bagaimana menjadi aku. Menghadapi berbagai persoalan hidup yang datang beriringan, menyelesaikan dan melangkah sendiri meski itu terpaksa, berusaha dan berdoa untuk mengangkat beban pikiran dengan meminta kepada-Mu agar semuanya dimudahkan dan diringankan.
Mereka hanya peduli pada kebahagiaan mereka sendiri. Memamerkan kebahagiaan itu. Mencemooh yang tidak setingkat dengan taraf kebahagiaan mereka. Menjadi manusia yang baru, yang membuatku semakin berlaku jahat pada mereka karena aku harus membenci mereka secara perlahan dengan menyaksikan perilaku mereka sendiri. Cukup.
Semoga aku bisa melewatinya ya Rabb. Ini hanya masalah waktu. Ketika tiba saatnya, obat akan muncul untuk menghilangkan semua penyakit yang ada di hatiku.
Aku rapuh ketika semua ujian berat itu menerpaku. Aku berusaha untuk mengambil celah, seberapapun sulitnya itu, untuk tetap bersyukur atas semua yang Engkau berikan, karena pada akhirnya aku bisa melewati ujian hidupku satu per satu. Tuhan, aku sangat berterima kasih karena Engkau telah meringankan beban-bebanku. Mengangkat segala macam persoalan yang bernaung di pikiranku. Memudahkan kakiku untuk melangkah, menyelesaikan semuanya. Menyelesaikan semua permasalahan, tentunya dengan kuasa-Mu.
Ya Allah, beruntung sekali aku hidup di antara teman-temanku sekarang. Teman-teman yang menyayangi aku, mengerti segala persoalanku, menyediakan telinganya untuk mendengarkan aku berbagi tentang kesedihanku. Satu hal yang ingin kubilang, semuanya berubah. Ya, berubah. Seperti debu yang tertiup angin dan pergi entah kemana hingga menjadi debu baru. Sama halnya dengan mereka. Mereka yang kupikir benar-benar bisa mengerti aku dalam semua keadaan, melebihi seseorang yang teramat menjadi kesayangan sekalipun, kini hanya bisa berucap sesuka mulut mereka sendiri. Berucap tanpa memikirkan reaksiku dengan kata-katanya. Berucap seakan semuanya mudah dilewati, semudah dia melontarkan kata-kata itu. Kini mereka lebih sering menyibukkan diri mereka dengan urusan baru. Urusan hati masing-masing yang tak seorang pun bisa berwenang untuk mengusiknya. Tinggallah aku dengan segenap kerapuhanku. Tapi aku masih punya Engkau yang selalu memberikan aku segalanya.
Aku memang seorang drama queen seperti kata mereka. Aku memang tidak berusaha meyakinkan diriku sendiri meski aku sebenarnya bisa lebih kuat. Aku hanya pura-pura lemah. Menyeret semua kesedihan-kesedihan itu dan membawanya meracuni semua bagian hidupku. Tapi inilah aku. Aku perasa, aku tak bisa begitu saja melepas semua kenangan yang telah kulewati. Aku masih harus bergelut dengan masa laluku yang harusnya bisa kusimpan dengan rapi. Aku masih harus memasukkan dia dalam kehidupanku, ya Allah. Ini parah sekali. Ini yang membuat aku makin terpuruk hingga akhirnya merasa semuanya menjadi beban.
Sakit adalah ketika orang lain berucap semau mulut dia tanpa dia membayangkan menjadi aku. Membayangkan? Bahkan sekedar pura-pura merasakan pun tidak. Ya, karena dia punya yang dia mau. Karena dia tidak sedang berada dalam keadaan tersulit.
Aku memang harusnya lebih dewasa menyikapi ini semua. Aku harusnya lebih bisa mengontrol diriku hingga mereka puas berbahagia di atas pijakan kaki mereka sendiri sambil membutakan mata bahwa aku berada dalam satu sisi kecil kehidupan mereka. Cukup. Ini sudah keterlaluan. Aku lebih berpikir untuk membiarkan diriku sendiri menjalani semuanya tanpa mereka harus tahu. Tanpa mereka harus berucap sesuka mereka. Di depan aku. Lebih baik semuanya membisu, daripada komunikasi yang akan mencemari hubungan di antara aku dan mereka. Mereka takkan pernah tahu bagaimana menjadi aku. Menghadapi berbagai persoalan hidup yang datang beriringan, menyelesaikan dan melangkah sendiri meski itu terpaksa, berusaha dan berdoa untuk mengangkat beban pikiran dengan meminta kepada-Mu agar semuanya dimudahkan dan diringankan.
Mereka hanya peduli pada kebahagiaan mereka sendiri. Memamerkan kebahagiaan itu. Mencemooh yang tidak setingkat dengan taraf kebahagiaan mereka. Menjadi manusia yang baru, yang membuatku semakin berlaku jahat pada mereka karena aku harus membenci mereka secara perlahan dengan menyaksikan perilaku mereka sendiri. Cukup.
Semoga aku bisa melewatinya ya Rabb. Ini hanya masalah waktu. Ketika tiba saatnya, obat akan muncul untuk menghilangkan semua penyakit yang ada di hatiku.
Sabtu, 20 April 2013
Langganan:
Komentar (Atom)